’Tragedi 1 Juni 2008’ : Aliansi Kebangsaan vs Elemen Umat Islam
AKKBB sendiri diyakini merupakan pendukung Ahmadiyah. Meski sudah dinyatakan “menyimpang” oleh Bakor Pakem, Ahmadiyah masih “belum diusik” oleh pemerintah, meski MUI dan ormas Islam sudah mendesak pemerintah segera melarang Ahmadiyah karena menodai ajaran Islam. Ahmadiyah bahkan kini dianggap ikon baru “pemersatu” kaum sekuler, liberal, dan kaum “anti-Islam”.
Seperti diberitakan hampir semua media massa nasional, Aksi AKKBB di Monas Jakarta, Ahad (1/6/2008), berakhir setelah terjadi bentrok dengan elemen umat Islam. Acara bubar setelah bentrokan dengan massa yang diduga Front Pembela Islam (FPI).
Sedianya, massa AKKBB akan menyelenggarakan Apel Akbar di Monas untuk memperingati hari lahirnya Pancasila 1 Juni dan mengadakan doa bersama untuk mendukung Ahmadiyah.
Diberitakan www.hidayatullah.com, pantauan langsung di lapangan menunjukkan, penyerbuan terjadi akibat aksi kelompok AKKBB sebelumnya. AKKBB melakukan “perang opini” dukungan terhadap Ahmadiyah di berbagai media massa. Di antaranya, iklan Petisi dukungan terhadap Ahmadiyah yang di muat di beberapa harian nasional.
Pemanasan itu nampaknya membuat beberapa elemen Islam mulai tersengat. Ada puluhan nama yang tergabung dalam AKK-BB yang ditulis ikut mendukung iklan Petisi di beberapa suratkabar. Di antara mereka adalah nama-nama seperti Rahman Tolleng, Adnan Buyung Nasution, Anand Krishna, Arief Budiman, Asmara Nababan, Azyumardi Azra, Christanto Wibisono, Goenawan Mohamad, dan Gusti Ratu Hemas.Juga nama-nama para kiai yang selama ini jadi sandaran para aktivis liberal seperti KH. Abdul A’la, Abdurrahman Wahid, dan Husein Muhammad. Selain itu, kalangan LSM pembela gender dan liberal seperti Jaringan Islam Liberal, ICRP, ICIP, The Wahid Institute, dll. Emosi massa yang diduga anggota FPI memuncak, lebih-lebih saat apel terjadinya peristiwa hari Ahad siang itu, banyak terlihat para jamaah Ahmadiyah dan beberapa nama yang selama ini ditulis-tulis dalam iklan Petisi dukungan pada Ahmadiyah. Massa yang diduga FPI menuduh, massa dari lintas agama melindungi ajaran sesat Ahmadiyah. Bahkan, kelompok dari lintas agama tersebut, salah satunya berasal dari Ahmadiyah.
Atas Nama Kebebasan Beragama
Massa kelompok Lintas Agama dan AKK-BB, selama ini memang selalu mengusung isu lindungi kebebasan beragama, termasuk ajaran Ahmadiyah.
Bahkan dalam iklan itu berjudul, “Mari Pertahankan Indonesia Kita!” yang dimuat di beberapa media massa, isi materi iklannya juga menuduh adanya sekelompok orang, seolah-olah hendak menghapuskan hak asasi warga negara untuk bebas beragama dan dianggap mengancam ke-bhineka-an.
Emosi tak bisa dibendung, beberapa massa yang diduga FPI menyerang dan melakukan penyerbuan. Meski kemudian aparat kepolisian berhasil memisahkan dua kelompok tersebut, dengan membentuk pagar betis manusia.
Sedikitnya 12 orang luka parah dan beberapa lainnya luka ringan akibat “tradedi Monas 1 Juni” itu. Salah satu peserta aksi yang terluka adalah Suaedy, Direktur The Wahid Institute. Mereka yang menjadi korban pemukulan antara lain Ahmad Suaedy (Direktur Eksekutif the WAHID Institute), Syafii Anwar (Direktur International Center for Islam and Pluralism), serta Muhammad Guntur Romli (Aktivis Jaringan Islam Liberal) yang sekarang dirawat di RSPAD Gatot Subroto.
Bukan FPI
Panglima Laskar Pembela Islam (LPI), Muhammad Machsuni, mengatakan, penyerangan itu bukan dilakukan oleh FPI. “Tolong diluruskan, itu bukan FPI tapi LPI,” kata dia. Machsuni mengakui jika atribut FPI dan LPI mirip.
Machsuni membenarkan penyerangan itu dilakukan karena ada orang-orang Ahmadiyah dalam acara itu. “Ahmadiyah mencemarkan umat Islam dan secara hukum sudah dilarang,” kata dia lagi. Apalagi anggota LPI melihat sendiri ada peserta rapat akbar yang membawa senjata api.”"Kami bukan melakukan kekerasan tapi memberi penegasan,” ujarnya dikutip Tempointeraktif.com.
Menanggapi aksi rusuh tersebut, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH. Amidhan menyatakan, bahwa pihaknya tidak bisa membenarkan cara-cara kekerasan yang terjadi. Amidhan menyatakan, telah menghimbau semua pihak agar tidak menggunakan cara-cara kekerasan dalam menghadapi kelompok sesat seperti Ahmadiyah. “Kita menyayangkan terjadinya peristiwa di Monas itu,” ujarnya.
Namun Amidhan juga menyampaikan pandangannya, bahwa apa yang dilakukan Front Pembela Islam (FPI) yang menyerbu massa Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB), di Silang Monas, tersebut tidak serta merta kesalahan FPI saja.
Amidhan menilai, apa yang selama ini dilakukan AKKBB juga amat provokatif alias memancing-mancing kemarahan umat Islam. Salah satunya adalah tindakan AKKBB yang menyertakan wakil-wakil agama lain selain agama Islam untuk ikut-ikutan membela kelompok sesat Ahmadiyah.
“Persoalan Ahmadiyah adalah urusan internal umat Islam, tapi Aliansi (AKKBB) mencantumkan dukungan dari pihak beragama lain selain Islam. Inilah yang kami pandang juga tindakan yang tidak benar. Masalah Ahmadiyah adalah masalah internal umat Islam. Agama lain di luar Islam jangan ikut campur, ” tegas Amidhan. MUI menyesalkan tindakan kekerasan yang terjadi tersebut. Namun, Amidhan menilai tindakan massa Aliansi juga provokatif.
Pendukung Petisi
Sebelum mengadakan aksi damai di Silang Monas. AKKBB sudah rajin menggalang opini di berbagai media massa. Termasuk di antaranya melakukan kampanye iklan Petisi yang dimuat di beberapa Koran nasional.
Iklan Peytisi bertajuk, “Mari Pertahankan Indonesia Kita!” yang dimuat di beberapa media massa, isi materi iklannya juga menuduh adanya sekelompok orang, seolah-olah hendak menghapuskan hak asasi warga negara untuk bebas beragama dan dianggap mengancam ke-bhineka-an.
Dalam iklan Petisi yang isinya mendukung Ahmadiyah itu, muncullah nama-nama. Di antaranya: A. Rahman Tolleng, A. Syafii Maarif (Maarif Institute), Abdul Moqsith Ghazali (JIL), Abdul Munir Mulkhan (UIN), Ade Armando (Majalah Madinah), Adnan Buyung Nasution, Agus Hamonangan (Kompas), para aktivis JIL lain seperti Ahmad Baso, Ahmad Fuad Fanani, Ahmad Nurcholish, Ahmad Sahal, Ahmad Suaedi, Ahmad Taufik, Ahmad Tohari, dan Akmal Nasery Basral.
Juga nama-nama lain seperti Albertus Patty, Amien Rais, Anand Krishna, Andreas Harsono, Asmara Nababan (PDI), Ayu Utami, Azyumardi Azra, dan Bachtiar Effendy.
Juga nama Christianto Wibisono, Daniel Dakhidae (Kompas), Fikri Jufri (Tempo), Gadis Arivia, Goenawan Mohamad, Gusti Ratu Hemas, Hamid Basyaib (JIL), Ihsan Ali-Fauzi, Indra J. Piliang, Jajang C. Noer, Julia Suryakusuma (aktifis feminis), Kautsar Azhari Noer, KH. Husein Muhammad (JIL), Imam Ghazali Said (dosen IAIN Surabaya), Lies Marcoes-Natsir, Luthfi Assyaukanie (JIL), M. Dawam Rahardjo, M. Guntur Romli (JIL), M. Syafi’I Anwar (ICIP), Marsilam Simanjuntak, Moeslim Abdurrahman dan Siti Musdah Mulia (ICRP).
Nong Darol Mahmada (JIL), Novriantoni (JIL), Rieke Dyah Pitaloka, Rizal Mallarangeng, Syamsurizal Panggabean, Toriq Hadad, Uli Parulian Sihombing, Ulil Abshar-Abdalla (JIL), Usman Hamid (Kontras), Wardah Hafiz (pegiat feminisme), Yenni Rosa Damayanti, Yenny Zannuba Wahid, Yudi Latif, Zainun Kamal (UIN), juga Zuhairi Misrawi (JIL).
Nama-nama tersebut, sebagaimana pemantauan hidayatullah.com di lapangan, dianggap memancing emosi akibat dukungannya dalam iklan Petisi membela Ahmadiyah di beberapa koran. Di sisi lain, melaui iklan Petisi nya di berbagai Koran, mereka juga telah menyalahkan kalangan Islam sebagai biang kekerasan.
Korlap AKK-BB: Dasar Binatang-binatang
Kesal “diserbu”, seorang Koordinator Lapangan (Korlap) aksi AKKBB, Saidiman, menyebut elemen Islam sebagai “Islam anjing”. Entah karena kesal atau sengaja, ia mengeluarkan kata-kata tidak pantas yang bisa memancing emosi umat Islam. “Dasar binatang-binatang. Islam anjing, orang Islam anjing,” ketus aktivis Komunitas Utan Kayu ini kesal, sebagaimana dikutip www.hidayatullah.com.
Namun sejak mengetahui dirinya berasa disamping wartawan hidayatullah.com, Saidiman buru-buru pergi dan masuk ke mobil bersama teman-temannya menuju Polda Metro Jaya, untuk melaporkan insiden yang dialaminya.
Di tempat evakuasi, nampak jurubicara JAI, Mubarik Ahmad, bersama rekan-rekannya tampak sibuk mengulas bentrokan yang baru saja terjadi. Sesekali, cercaan keluar dari mulut mereka.
Kepada hidayatullah.com, Mubarik mengatakan, sebenarnya dia sudah memperkirakan akan terjadinya insiden tersebut. Tapi dia mengaku enggan untuk membatalakan rencana aksinya. “Sudah telanjur. Nggak mungkin mundur dong,” ucap pria berbadan besar penuh berewok ini.
Saat insiden terjadi, Mubarik baru saja memarkir sepeda motor trail warna kuning merek Hyosung B 6438 IB miliknya di bahu jalan, seberang digelarnya aksi AKKBB. Melihat massa yang diduga FPI yang datang tiba-tiba dari arah pintu barat Monas, dia hanya tertegun. Kamera yang terkalung di lehernya tidak dijepret barang sekali pun. Sementara massa AKK-BB berhamburan, sebagiannya jadi bulan-bulanan FPI.
Salah seorang dari massa AKK-BB menyalamatkan diri ala aktor film laga, dengan melompat bergelantung di jendela mobil patroli polisi yang melaju untuk membubarkan bentrokan. Sementara massa FPI tetap mencecar dan menombak-nombak pria tadi dengan bambu.
Di seberang, Mubarik masih tertegun. Kemudian kembali ke sepeda motornya untuk meninggalkan lokasi. Ketika hidayatullah.com menghapiri dan menanyakan hendak ke mana dirinya, Mubarik hanya melengos. Sepeda motornya dipacu.
Usai bentrokan, massa Laskar Pembela Islam (LPI) dan FPI yang berjumlah 300-an orang berbaris rapih mendengar orasi seraya meneriakkan takbir dan tahlil. Di lapis kedua, berbaris 200 orang anggota Gerakan Islam Reformasi (Garis) dari Cianjur, selanjutnya disusul belasan orang dari Majelis Mujahidin Indonesia (MMI).
Menjelang bubar, Ketua Tim Advokasi FUI sekaligus jubir FPI, Munarman, memberikan orasi penutup. Kepada Intelkam Mabes Porli, Sunaryo, Munarman mengingatkan, setelah peristiwa ini, kalangan liberal akan segera membuat wacana baru untuk menyudutkan FUI, FPI, MMI, dan lainnya di media massa. (Mel. Sumber: hidayatullah.com, eramuslim.com).
Sumber : www.tabloidalhikmah.wordpress.com
