Pusat Informasi Agusto

23 June , 2008

Peran Bank Dunia dalam kenaikan harga BBM di Indonesia

Filed under: Opini

Oleh Firdaus Cahyadi

Kekecewaan sebagian masyarakat Indonesia terkait dengan kenaikan harga BBM pada akhir Mei lalu belum sepenuhnya mereda. Namun, hal itu tak menyurutkan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) untuk mengusulkan kembali kenaikan harga BBM hingga sesuai dengan harga pasar.

Dalam running text yang ditayangkan sebuah televisi swasta nasional belum lama ini disebutkan bahwa Bappenas mengusulkan agar pada 2009 pemerintah dapat menaikan harga BBM secara bertahap dalam setiap bulannya hingga sesuai dengan harga BBM di pasar dunia.

Apabila dikaji lebih jauh usulan Bappenas itu sejatinya tidak terkait langsung dengan upaya penghematan energi fosil, tetapi terkait erat dengan upaya mengejar target pemenuhan kominten kebijakan yang harus dibuat pemerintah setelah menerima pinjaman dari Bank Dunia.

Pada 2003 pemerintah menerima pinjaman Bank Dunia untuk membiayai proyek Java Bali Power Sector Restructuring and Strengthening. Menurut dokumen Bank Dunia, proyek tersebut bertujuan mendukung pemerintah Indonesia dalam usahanya menghilangkan subsidi BBM secara bertahap (KAU, 2008).

Campur tangan Bank Dunia tersebut semakin tampak dari pernyataan Joachim von Amsberg, Kepala Perwakilan Bank Dunia untuk Indonesia pada dua hari setelah kenaikan harga BBM. Menurut dia, kenaikan harga BBM sebesar 28,7% cukup kompatibel dengan anggaran pemerintah.

Perparah kemiskinan

Padahal upaya penyesuaian harga BBM dengan harga pasar dunia dipastikan semakin memukul kehidupan rakyat. Betapa tidak? Pada saat pendapatan sebagian masyarakat kita masih tergolong rendah tetapi harus dipaksa membeli harga BBM sesuai dengan harga pasar. Untuk mengikuti kemauan Bank Dunia itulah, selama berkuasa pemerintah Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla sudah tiga kali menaikkan harga BBM.

Akibatnya, angka kemiskinan di negeri ini pun bertambah. Sebuah penelitian Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) secara jelas menyatakan bahwa jumlah penduduk miskin pada 2008 ini akan bertambah 4,5 juta orang akibat kenaikan harga BBM. Total orang miskin diperkirakan akan mencapai 41,7 juta jiwa atau 21,92% dari total penduduk, jauh lebih tinggi daripada perkiraan pemerintah sebesar 14,8%-15%.

Hal itu diperkuat dengan kenyataan empiris di lapangan, tidak lama berselang setelah kenaikan BBM harga sayuran di pasar-pasar tradisional di Jakarta pun mulai naik. Tomat, yang sebelumnya dijual Rp4.000 per kilogram menjadi Rp5.000 per kilogram, sedangkan cabai merah yang semula Rp15.000 per kilogram menjadi Rp18.000 per kilogram mulai merangkak naik.

Bukan hanya di Jakarta, melainkan juga di Semarang sebagian nelayan Kampung Tambaklorok, Kota Semarang, Jawa Tengah, mulai berhenti mencari ikan sejak beberapa hari lalu setelah pemerintah menaikkan harga BBM. Mereka tidak mampu menutup biaya operasional melaut yang naik hingga 50%.

Untuk meredam keresahan masyarakat akibat semakin lemahnya daya beli mereka terhadap kebutuhan sehari-hari tersebut, pemerintah menyalurkan bantuan langsung tunai (BLT) sebesar Rp100.000 per bulannya. Uang sebesar itu pun dipastikan tidak akan memadai di tengah naiknya kebutuhan harga barang-barang akibat kenaikan harga BBM.

Terlepas dari mencukupi atau tidaknya BLT yang disalurkan pemerintah, jika dicermati secara lebih jauh program BLT sejatinya juga mengadopsi paradigma sistem ekonomi-politik neoliberal yang gencar dipromosikan oleh Bank Dunia, ADB, dan IMF di negeri ini.

Para penganjur sistem neoliberal sadar bahwa penerapan sistem ini akan memukul kelompok miskin. Namun, mereka yakin bahwa dampak buruk penerapan sistem ini akan bersifat sementara. Lama kelamaan masyarakat miskin akan mampu beradaptasi dengan sistem ini. Untuk mengatasai dampak buruk yang menurut mereka bersifat sementara itu, negara harus memberikan bantuan bagi kelompok miskin agar dalam waktu singkat dapat beradaptasi dengan sistem neoliberal tersebut (Reclaiming Development: An Alternative Economic Policy Manual, 2004).

Sistem neoliberal sendiri diciptakan untuk melucuti peran negara dalam mengatur ekonomi. Menurut sistem ini, pengaturan ekonomi seharusnya diserahkan kepada korporasi melalui mekanisme pasar. Sektor energi adalah salah satu pintu masuk bagi upaya meliberalkan sistem ekonomi dan politik di Tanah Air.

Jika sektor ini sudah diserahkan secara bulat-bulat kepada mekanisme pasar maka sektor lainnya, seperti pangan dan pendidikan akan lebih mudah untuk diserahkan pada mekanisme serupa.

Untuk itulah, pemerintah harus lebih berhati-hati terhadap usulan Bank Dunia melalui Bappenas yang menginginkan harga energi disesuaikan dengan harga pasar. Dampak sosial di masyarakat harus diperhitungkan oleh pemerintah sebelum menerima secara bulat-bulat usulan tersebut.

Memang tidak dapat dipungkiri pula bahwa konsumsi BBM di negeri ini sangat tinggi sehingga mengharuskan pemerintah untuk merogoh koceknya guna membiayai impor BBM. Namun, kondisi itu tidak bisa membenarkan munculnya kebijakan menaikkan harga BBM hingga sesuai dengan harga pasar.

Pemerintah masih mampu mengupayakan kebijakan untuk mengerem laju konsumsi BBM di dalam negeri, misalnya pembatasan penggunaan kendaraan bermotor pribadi yang diimbangi dengan pembangunan infrastruktur transportasi publik.

Namun, tampaknya kebijakan seperti itu justru tidak pernah muncul, pemerintah lebih suka menuruti keinginan Bank Dunia seperti yang telah disampaikan oleh Bappenas. Rupanya pujian dari Bank Dunia lebih memikat hati para pengambil kebijakan di negeri ini dibandingkan dengan melihat rakyatnya bersuka ria karena terlepas dari belenggu pemiskinan.

Firdaus Cahyadi, Knowledge Sharing Officer for Sustainable Development, OneWorld-Indonesia. (www.g1s.org)

Simon Nixon, Kaya Berkat Internet

Filed under: Info, Internet
Kunci sukses Simon Nixon adalah hanya dengan memanfaatkan internet. Nixon dinobatkan sebagai pengusaha muda berusia di bawah 40 tahun dan terkaya di Inggris versi harian Telegraph.

Selain penobatan tersebut, dia juga mampu melakukan terobosan dalam dunia usaha dengan mengenalkan bisnis keuangan secara online. Dalam kurun waktu kurang dari satu dekade, dia mampu mengeruk keuntungan sebanyak 363 juta poundsterling (Rp6,65 triliun). Di Inggris, Nixon dikenal sebagai pengusaha internet. Kesuksesan Simon Nixon, yang berusia 40 tahun, berawal dari moneysupermarket. com.

Dia adalah entrepreneur yang memanfaatkan internet sebagai mesin uangnya. Moneysupermarket.com merupakan situs yang menyediakan layanan layaknya broker keuangan bagi masyarakat. Dengan satu situs, para pengakses bisa mendapatkan 25 fitur, mulai dari pegadaian, pelayanan tiket pesawat, asuransi, belanja, dan masih banyak lainnya.

Paling baru, situs itu juga dijadikan media untuk berinvestasi melalui saham. Nilai kekayaannya memang tidak terlalu besar. Hanya saja, nama Nixon masih terus menggema di kalangan para pebisnis. Maklum, dia mampu menjebol dinding bisnis di Inggris. Sebelumnya, banyak kalangan yang meragukan bahwa tidak mungkin menjadi orang kaya hanya dengan modal situs internet.

Pandangan mereka wajar karena jarang perusahaan berbasis online berkembang dan besar di Inggris. Namun Nixon mampu membuktikan bahwa keraguan itu tak beralasan. Ketika moneysupermarket. com masuk bursa saham, perusahaan milik Nixon mencatat sejarah. Bisnisnya menjadi usaha online pertama yang paling tinggi penjualan saham perdananya.

Ketika itu, penjualan sahamnya mencapai 700 juta poundsterling (Rp12,80 triliun) pada Juli tahun lalu. Angka yang cukup menakjubkan! Pada tahun lalu saja, dia berhasil menorehkan keuntungan mencapai 18,6 juta poundsterling (Rp340,23 miliar). Dari mana keuntungan perusahaannya?

Nixon menuturkan, keuntungan didapatkan dari komisi yang disediakan oleh provider dan mitra yang diajak bekerja sama. Keuntungan akan semakin besar dengan kelancaran pemasaran dan distribusi yang tepat, menjadikan mitra kerja semakin percaya pada perusahaannya.

"Jadikan perusahaan lebih kompetitif, maka keuntungan pasti akan datang," paparnya kepada Times Online. Setiap tahun, moneysupermarket. com mampu menyalurkan pinjaman uang pribadi minimal 200 juta poundsterling (Rp3,66 triliun). Setiap hari, situs itu mampu menjaring lebih 10.000 orang untuk mengisi aplikasi kartu kredit. Lantas, apa inspirasi Nixon dalam mengawali bisnisnya? Jawabnya singkat. Inspirasinya adalah ketakutan atas sebuah kegagalan.

Mantan mahasiswa yang drop out dari Universitas Nottingham jurusan akuntansi ini mengakui, ketakutannya adalah ketika dia gagal memperoleh gelar sarjana pada 1993. Dia selalu membuang jauh-jauh kebanggaan atas sebuah bisnis atau impian. Hanya mengandalkan satu situs, dia mampu mempekerjakan 600 pekerja, 300 di antaranya adalah programer internet.

Sebelumnya, dia tidak membayangkan akan menjadi seorang bos. Namun, dia ingin tetap menjadi bos dengan terus memberikan semangat dan energi kepada seluruh karyawannya. Dalam pandangan mantan Direktur Keuangan moneysupermarket. com Jeremy Dodd, Nixon merupakan orang yang memiliki banyak ide. Selain itu, menurut Dodd, Nixon mampu mengembangkan ide.

Ketika banyak orang lebih menyukai mengamati tren dan kesempatan untuk berbisnis, Nixon membuat tren dan kesempatan itu menjadi sebuah kenyataan. "Bisnis yang dikelola Nixon bukan hanya untuk mencari uang. Namun dia juga membawa banyak orang untuk mengikuti idenya," ujarnya seperti dikutip Real Business. Pandangan itu memang benar.

Ide adalah segalanya bagi Nixon. Pria kelahiran Stamford, Nottinghamshire itu menuturkan setiap kali datang ke kantor, ketika membuka laptop, dia harus memiliki 10 ide cerdas. Jika libur, dia mengaku mampu mengumpulkan 250 ide dan semuanya memiliki energi.

Semua ide itu akan dikembangkan untuk moneysupermarket. com.Cara menggapai ide itu, menurut pria lajang ini, harus inovatif dan melihat peluang serta kesempatan di balik sebuah kesulitan. Bukan hanya ide yang membuat bisnis online-nya terus bergaung. Kesuksesan bisnisnya juga tidak lepas dari strategi yang selalu diterapkannya. Apa itu? Baginya, yang paling penting adalah meluangkan 20 persen aktivitas pekerjaannya untuk mengamati situs-situs kompetitor.

"Setiap wakyu, apa yang dilakukan kompetitor harus dipantau. Dengan begitu, kita bisa mengetahui bagaimana caranya menjadi lebih baik," ujarnya seperti dikutip The Sunday Times. Bagi Nixon, jangan buat kesalahan sampai dua kali. Menurutnya, hal itu menjadi satu patokan yang harus dilakukan seorang pengusaha atau siapa pun yang ingin sukses.

"Anda boleh membuat kesalahan sampai ratusan kali, tapi Anda tidak boleh mengulangi kesalahan untuk kedua kalinya," ujarnya pada Telegraph. Dia mengajarkan bahwa untuk menjadi pengusaha sukses harus selalu berpikir untuk menjual sesuatu yang unik. Dia menuturkan, jika seseorang tidak memiliki jiwa marketing yang tangguh, bentuklah sebuah tim, dengan begitu kesuksesan akan datang.

Tantangan ke depan, menurut Nixon, adalah jumlah pengguna internet di Inggris yang stagnan. Hal itu menjadi kekhawatirannya. Untuk itu, dia akan lebih memfokuskan diri pada pasar Eropa. Menghadapi persaingan yang semakin kencang, dia pun membuat laboratorium penelitian dalam bidang pengembangan teknologi informasi.

Tidak tanggung-tanggung, dia juga menginvestasikan lebih dari 9 juta poundsterling (Rp165,01 miliar) untuk meningkatkan kemampuan teknologi perusahaannya agar semakin berkembang dan maju. Keinginan Nixon yang belum tercapai adalah menjadikan bisnisnya sebagai merek terkenal layaknya bisnis yang dimiliki miliarder Sir Richard Branson.

Dia menuturkan kepada the Independen bahwa Branson mampu menciptakan sebuah citra mereknya secara kuat dan tinggal mengeksplorasi saja. Dia juga ingin menjadikan perusahaannya seperti Marks & Spencers, perusahaan fesyen kelas dunia. Marks & Spencers memiliki manajemen perusahaan yang tangguh dan menjadikan banyak pelanggan percaya serta bisnisnya terus mencengkeram hingga ke seluruh dunia.

Sebenarnya, Nixon tidak memiliki latar belakang keahlian di bidang komputer dan teknologi informasi. Nixon menceritakan pada 1990, ketika banyak orang mulai menggunakan komputer, dia pun mulai membeli komputer. Di Inggris, pada 1997, ketika banyak orang mulai melek teknologi internet, dia pun melihat sebuah peluang bisnis yang berkaitan dengan dunia online.

Pada 1999, dia memulai dengan membuat situs moneysupermarket. com. Situs itu diluncurkan pada Desember 1999. Hanya dengan dua fitur, kartu kredit dan pinjaman pribadi, situs ini mampu diakses dan dimanfaatkan banyak orang di Inggris. (Okezone)






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Minz Meyer